Jejak Cahaya Guru: Dari Seorang Murid yang Kini Menjadi Pendidik
Jejak Cahaya Guru: Dari Seorang Murid yang Kini Menjadi Pendidik
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Hari ini saya ingin berhenti sejenak—menoleh ke belakang, menyusuri jejak-jejak yang telah membentuk saya. Ternyata setiap langkah tidak pernah saya jalani sendirian; ada Bapak dan Ibu Guru yang hadir, yang menuntun dan memberi arah. Rasanya seperti sedang duduk bersama kalian, menyampaikan kata demi kata yang sejak dulu terpendam dalam hati.
Pertama, untuk Ibu dan Bapak, dua guru pertama dalam hidup saya. Dari kalian saya belajar keteguhan, doa, dan cinta yang tidak pernah selesai. Terima kasih telah menjadi madrasah paling sabar dan paling lembut yang pernah saya miliki. Paklik, Bulik, Pakde, Budhe, Om, Mbahkung, Mbahti, dan seluruh keluarga yang telah sabar membimbingku.
Saya teringat masa kecil di TPA, belajar mengaji bersama Bu Muna dan Pak Soni. Dari kalian saya belajar ketelatenan dan ketenangan, nilai yang hingga kini menjadi bagian dari cara saya mengajar.
Lalu kenangan TK bersama Bu Tatik, Bu Tutik, Bu Endang, dan Bu Eni—ingatan tentang warna, tawa, dan semangat belajar yang begitu sederhana namun menghangatkan hati.
Di SDN Ploso II Tambaksari Surabaya, ada Bu Samsini, Bu Farida, Bu Tutik, Bu Umi, Pak Joko, Pak Pri, serta Pak Sidik, Bu Ana, dan Pak Di. Masa sekolah di SD adalah masa paling menyenangkan dan penuh makna. Banyak pelajaran yang masih saya ingat dengan jelas, dan sering saya gunakan kembali saat saya berdiri sebagai guru untuk murid-murid saya.
Di SMP, ada Pak Supardiono, Pak Suwondo, Bu Ngunsi, Pak Didik, Pak Samsul, dan seluruh guru yang membimbing masa remaja saya—masa penuh perubahan, pencarian, dan rasa ingin tahu.
Pengalaman di Koperasi Siswa adalah bab yang tidak kalah indahnya. Dari persiapan lomba ekonomi dan akuntansi hingga “wisata akademik” ke berbagai kampus—meski tak membawa pulang piala, tetapi membawa pulang pengalaman yang jauh lebih berharga. Belum lagi bimbingan di eskul perpustakaan, yang menumbuhkan kecintaan pada literasi dan organisasi. Semua pengalaman itu kini menjadi bekal yang sering saya buka kembali dalam berorganisasi dan membina siswa.
Perjalanan saya tidak berhenti di bangku sekolah. Saya kemudian bertemu guru-guru baru dalam bentuk Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Dari para dosen di sanalah saya belajar melihat pendidikan dari kacamata yang lebih luas, lebih ilmiah, lebih manusiawi. Terima kasih karena telah membentuk cara berpikir saya sebagai calon pendidik.
Begitu pula Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Terbuka Surabaya, yang membimbing saya memahami dunia pendidikan dasar dengan lebih utuh. Melalui kuliah-kuliah, tugas, dan diskusi-diskusi panjang, saya belajar bahwa menjadi guru bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga tentang menjadi manusia yang hadir untuk manusia lain.
Semua perjalanan itu—dari TPA, TK, SD, SMP, SMA, sampai perguruan tinggi—menjadi untaian cerita yang membimbing saya hingga saya akhirnya berdiri sebagai seorang guru. Dan kini, saya sering menemukan diri saya meneladani kalian semua: cara memberi nasihat, cara menenangkan murid, cara memandang setiap anak dengan harapan dan keyakinan. Jejak kalian hadir dalam caraku mendidik.
Di penghujung surat ini, izinkan saya mengucapkan sesuatu yang mungkin belum cukup sering saya sampaikan:
Muridmu,
#selamatharigurunasional #25november2025 #guruhebatindonesiakuat #terimakasihguruku
.png)
Posting Komentar untuk "Jejak Cahaya Guru: Dari Seorang Murid yang Kini Menjadi Pendidik"